
Sumber: KOMPAS.com
Sendiri karya Chairil Anwar
Hidup tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia mencekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut, mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!
Puisi Sendiri Chairil tulis pada saat hidupnya dipenuhi perasaan kesepian dimana pada saat itu
kehidupannya penuh dengan pergolakan batin. Puisi ini memperlihatkan sisi paling rapuh
Chairil Anwar seperti ketakuan dan kehampaan. Dalam puisinya, Chairil Anwar ingin menyampaikan jeritan batin seseorang yang benar benar putus asa dan merasa kehilangan arah. Rasa kesepian, kebencian akan diri sendiri ditunjukan sebagai cerminan dari pergolakan batin yang kuat. Pada bait “ibu! ibu!” dimaknai sebagai
kerinduan akan sebuah kehangatan yang telah sirna.
Tindak tutur emosional dalam puisi ini membuat kita merasakan dinamika batin yang diciptakan.
a. Mengeluh, terdapat pada bait “Hidupnya tambah sepi, tambah hampa”
b. Memekik, terdapat pada bait “Ia memekik ngeri”
c. Menyalahkan diri, terdapat pada bait “Ia membenci dirinya dari segala”
d. Memanggil, terdapat pada bait “Ibu! ibu!”
Puisi ini mengajak pembacanya untuk merasakan suasana yang muram dan menyedihkan.
Pembaca bisa merasakan naik turunnya emosi mulai dari rasa kesepian, takut, benci pada diri
sendiri, dan kerinduan. Puisi ini membebaskan pembacanya untuk menafsirkan makna berdasarkan pengalaman
pribadi sang pembaca. Seseorang yang memiliki pengalaman emosional akan takutnya kehilangan,
akan memaknai puisi ini sebagai jeritan hati mereka. Makna akan muncul dari interaksi antara
puisi dan pembacanya, sehingga puisi akan terasa hidup melalui respons pembaca terhadap puisi.
